top of page
Desk

 NAELULABLE  
MENULIS UNTUK BERBAGI

Sampah Visual: Sang Pengganggu

  • Writer: Naelul Arzak
    Naelul Arzak
  • Aug 19, 2022
  • 2 min read

Updated: Jan 30, 2023


Kemajuan jaman saat ini membuat penyebaran informasi semakin mudah. Melalui media-media digital seseorang bisa sangat mudah menyebarkan sebuah informasi, tak terkecuali untuk media promosi. Media promosi sangat banyak jenisnya, dapat melalui media seperti koran, majalah, atau media luar ruang seperti pemasangan iklan dijalanan umum. Atau media digital seperti televisi maupun radio atau internet. Bahkan untuk sekarang ini media online justru mendominasi pasar iklan, sebut saja seperti Instagram salah satu media sosial yang sangat banyak penggunanya sehingga target pemasaran dapat sekali efektif dengan cara menempatkan iklan di media sosial yang satu ini.

Selain media sosial, penggunaan iklan pada jalanan-jalanan umum masih banyak juga peminatnya. Jenis iklan yang satu ini biasanya menggunakan spanduk/banner, poster, baliho, dan lain sebagainya yang sengaja di tempatkan pada papan iklan di area jalanan umum. Baik itu sudah atas perizinan semisal iklan tersebut ditempatkan pada papan iklan yang tersedia maupun secara sengaja ditempatkan seenaknya pada area yang ramai, sebagai contoh pemasangan spanduk yang seenaknya dipasang di tepi jalan atau pemasangan poster iklan yang seringkali di pasang bukan pada tempatnya yaitu pada tiang listrik yang berdiri di tepi jalan. Hal seperti ini seringkali terjadi pada masa pemilu, poster maupun baliho banyak sekali bertebaran dijalanan umum, bahkan tidak terstruktur dengan baik penempatannya, dan seringkali setelah masa pemilu usai dibiarkan begitu saja dan menjadi sampah jalanan. Bukankah hal semacam itu sangat tidak nyaman untuk dilihat?

Sampah visual, mungkin sebuah penyebutan yang pantas untuk fenomena semacam ini. Seperti dalam bukunya Sumbo Tinarbuko (2015) menyebutkan bahwa pola penempatan atau pemasangan media iklan luar ruang seperti poster, spanduk, banner, baliho dan lain sebagainya bertolak belakang dari desain reklame yang sejatrinya dirancang sedemikian rupa agar terlihat menarik, artistik, informatif, dan komunikatif. Namun hal itu diselewengkan oleh tangan-tangan orang yang bertugas memasang reklame tersebut sehingga karya desain yang seharusnya bagus berubah fungsi menjadi sejumlah sampah visual yang bertebaran di jalan.

Bertebarannya iklan-iklan publik seperti itu sejatinya sangat mengganggu pemandangan publik. Misalnya apabila sampah visual tersebut dipasang pada tempat-tempat rekreasi publik seperti taman kota yang seharusnya menjadi tempat yang pemandangan kotanya indah dilihat menjadi rusak akibat sampah visual tersebut. Bukan hanya pada tempat-tempat rekreasi, bahkan pada tempat umum seperti jalanan umum juga terkadang sangat mengganggu pemandangan karena tak tertata dengan baik pemasangan iklan-iklan publik tersebut. Walaupun fenomena tersebut sangat wajar dan sangat dimaklumi ketika masa-masa pemilu. Sehingga membutuhklan suatu kebijakan yang kuat terkait penggunaan reklame di jalanan umum agar penggunaan media promosi tersebut lebih tertata dan tidak mengganggu pemandangan jalanan yang seharusnya didapatkan oleh para pengguna jalan.

Permasalahan lain terkait iklan luar ruang adalah masih relevan kah iklan luar ruang seperti reklame dipasang disekitar jalan mengingat hal penyebaran informasi sperti iklan sudah banyak sekali dilakukan melaui media sosial, terutama pada masa pemilu pun sejatinya lebih efektif menggunakan media iklan online sebab reklame hanya menampilkan gambar dengan ditambah kata-kata manis yang sepertinya tidak membuat masyarakat tertarik, sebab informasi bisa diperoleh lebih banyak di media online. Sehingga apabila iklan luar ruang seperti itu masih sangat banyak dan tak tertata maka akan banyak lokasi atau tempat yang kehilangan nilai keindahan sebab sampah visual tersebut. Jadi, masih layak kah sampah-sampah visual tersebut dibiarkan bertebaran?


Referensi:

Tinarbuko, sumbo. 2015. Desain Komunikasi Visual Penanda Masyarakat Global. Jogjakarta : CAPS.

Comments


bottom of page