Desain Grafis: Logika dan Perasaan
- Naelul Arzak
- Aug 24, 2022
- 2 min read

Desain grafis, sebuah proses komunikasi menggunakan elemen visual baik itu tipografi, fotografi, serta ilustrasi yang dimaksudkan untuk menciptakan persepsi akan suatu pesan yang disampaikan. Sedangkan desainer grafis ialah orang yang menggeluti bidang tersebut. dari hal ini, desain grafis sebagai suatu hasil jadi dari seorang desainer dalam memecahkan sebuah masalah. Mengapa demikian? Desain adalah sebuah solusi dari sebuah masalah. Masalah apa yang dimaksud? dalam hal desain grafis ialah masalah mengkomunikasikan sebuah pesan yang hendak disampaikan dengan tepat.
Bermacam-macam desain yang dikerjakan oleh seorang desainer grafis, namun apakah pernah terpikir bagaimana seorang desainer melakukannya? Sebelum masuk mengenai bagaimananya desainer grafis, alangkah lebih baik jika dimulai dari seorang “klien” atau orang yang memberi “brief” pada seorang desainer grafis. Brief yang dilayangkan terkadang berupa sesuatu yang kurang masuk akal, ingin banyak namun hanya memberikan ruang kerja yang sempit, atau memberikan brief tanpa embel-embel referensi dan akhirnya masuk pada kata “Terserah, anda kan desainernya”. Sebagai contoh permintaan sebuah leaflet yang hanya berukuran kecil untuk memuat teks yang hampir tidak muat atau terlalu penuh untuk dimasukan kedalam ukuran yang kecil tersebut. Maka dari sinilah desainer berfikir, tentu dengan logika. Bagaimana maksudnya?
Proses objektif/ brief dari klien mungkin akan bermacam-macam dari yang jelas sampai ambigu, dari yang masuk akal sampai yang kurang memungkinkan. Maka dari itu jangan takut untuk bertanya ke klien bagaimana kejelasannya dan jangan pernah menjadi seorang desainer yang hanya bisa bilang “Iya” padahal belum tau arahnya kemana. Referensi ada bukan sebagai patokan melainkan sebuah inspirasi, makanya dengan logika akan tahu bagaimana dampaknya bila dicap sebagai seorang plagiat. Desain yang fungsional dan efisien, klien terkadang membuat permintaan singkat seperti “yang penting bagus” namun jika dengan logika seorang desainer haruslah desain fungsional yang dinomor satukan, lalu usability, kemudian barulah yang terakhir masalah “Aesthetic”. Tidak jauh dengan fungsionalitas, urutan prioritas flow baca juga menentukan kenyamanan outputnya., sehingga dapat memenuhi makna kata “yang penting bagus” dari sisi klien sendiri. Kemudian yang perlu dipertimbangkan betul-betul adalah format desain yang sesuai dengan kebutuhan output, ukuran, format file, jenis kertas, dan teknik printing termasuk kedalamnya.
Perasaan, bagaimana sebuah perasaan tertuang dalam desain. Tidak lain adalah untuk menyampaikan sebauh visualisasi yang menciptakan persepsi yang sama dengan yang hendak dimaksudkan. Visualisasi ide menjadi estetis, bagaimanapun brief yang diberi oleh klien, selalu beri alternatif untuk sebuah desain, dari alternatif tersebut klien dapat menentukan mana yang akan mereka pilih dan apa yang seorang desainer inginkan. Visualisasi ide dari desainer tidak sepenuhnya bisa diterima oleh klien oleh karena itu alternatif disiapkan untuk menjelaskan kelebihan antara desain satu dengan lainnya. Perasaan disesuaikan melalui prinsip desain yakni Bahasa visual, teori warna dan makna warna, tipografi, bentuk, ruang, disposisi, kontras dan lain-lain. Identitas warna logo, dan font identitas yang mencirikan sebuah bidang usaha klien juga menentukan. Dan bagaimana cara perasaan itu tepat dengan maksud pesan yang ingin disampaikan? Psikologi persepsi, menempatkan diri kita sebagai sasaran atau target audien, dari hal itu desainer dapat merasakan apakah yang ditangkap sudah sesuai dengan maksud dibaliknya.
Itulah desain grafis, logika dan perasaan sangat perlu dituangkan ke dalamnya. Bagaimana baiknya menurut desainer, bagaimana baiknya menurut klien, atau bagaimana persepsi menurut sasaran atau target audien saling berhubungan satu sama lain.




Comments