Kritik Seni Instrumentalistik Karya Agus Sugawe "Babel Head"
- Naelul Arzak
- Nov 29, 2021
- 4 min read
Updated: Jan 30, 2023

Foto: https://indoartnow.com/artists/agus-suwage
Judul Karya : Babel Head
Nama Seniman : Agus Sugawe
Bahan : Oil, Copper leaf on galvanized zinc
Ukuran : 60 cm x 80 cm
Tahun Pembuatan : 2013
1. Deskripsi Karya
Karya lukis oleh Agus Sugawe yang berjudul “Babel Head” divisualisasikan dengan metafora yang unik. Material subjeknya merupakan satu figur manusia pria dewasa yang ditampilkan seukuran bahu namun dengan fokus utama kepala sampai leher, dengan bentuk menyerupai menara babel namun dengan bahan besi yang menyambung pada dahi keatas sehingga memperlihatkan manusia berkepala menara babel. Posisi figur ditampilkan dengan arah samping tiga per empat. Ekspresinya memperlihatkan wajah serius dan tatapan sinis kearah pengamat atau penikmat karya. Dengan background abu-abu yang ditampilkan sebagai tembok lempengan besi dengan bercak karat serta dimanfaatkan sebagai warna baju dari figur yang digambarkan. Ditambah dengan ornamen yang membentuk serangkaian bunga berwarna oranye khas Agus Sugawe yang sering ditampilkan pada karya Agus lainnya.
Medium lukisan yang digunakan adalah cat minyak diatas lempengan besi atau dapat disebut sebagai material seng berukuran 60 cm x 80 cm yang sudah cukup berkarat namun menghasilkan kesan yang lebih artistik. Teknik yang digunakan adalah tenik lukis realis dengan dominan penggunaan warna gelap.
2. Analisis Formal
Garis pada subjek karya dibentuk secara maya walaupun pada bagian baju diberikan garis jelas yang menggambarkan bentuk baju dan relatif membentuk garis lengkung. Garis maya terbentuk oleh warna kulit dengan background yang memiliki warna abu-abu serta terbentuk oleh perbedaan value sehingga dengan baik membentuk kelengkapa fitur wajah beserta ekspresi yang digambarkan.
Penggunaan warna cenderung mengambil warna gelap dan dingin yaitu warna cokelat keunguan dan biru kehitaman sebagai kedalaman atau tingkat value, dan warna cokelat sebagai warna dasar. Dan interaksi beberapa warna tersebut menghasilkan kontur wajah yang kuat dan ekpresi yang tajam. Selain membentuk wajah, warna gelap dan dingin diaplikasikan untuk membentuk sebuah menara babel besi. Dengan kontrol value atau gelap terang yang baik, kesan realis dari babel yang terbuat dari besi terlihat nyata. Meskipun kesamaan warna dengan background relatif dekat namun dengan kontrol value yang baik tersebut dan ditambah dengan ornamen bunga pada background kesan babel terlihat kuat. Tekstur ditampilkan secara maya pada figur utama dengan kesan halus pada permukaan wajah. Bentuk secara keseluruhan terbangun oleh form dasar oval hingga menampilkan bentuk figur kepala manusia dengan babel sebagai kepala bagian atasnya.
Penekanan karya ditampilkan pada bagian ekspresi atau mimik wajah terlihat sangat serius dengan tatapan yang sinis. Hal ini sangat dikuatkan dengan pemilihan warna yang tepat mengekspresikan perasaan yang diperlihatkan subjek karya. Begitu pula dengan kepala figur yang berbentuk babel besi yang secara langsung memperlihatkan kesan keras dan dingin. Sehingga secara keseluruhan memilkiki kesatuan yang melibatkan keterhubungan antar bentuk tersebut. penekanan tersebut juga didukung dengan pengambilan arah penggambaran figur yang menyamping yang membuat ekspresi terfokus pada mata yang digambarkan menatap dari sudut samping.
3. Intepretasi
Dalam karya ini, Agus Sugawe mencoba mengkomunikasikan sifat buruk manusia, baik itu berhubungan dengan hubungan sosial, moral, agama maupun kepentingan politik baik manusia terdahulu maupun dalam konteks masa kini. Visualisasi kepala figur manusia yang digambarkan menjadi satu-kesatuan utuh dengan bentuk menara babel dapat diterjemahkan sebagai keangkuhan diri manusia, di mana menara babel sendiri merupakan simbol keangkuhan sejati manusia. Kepala menara babel yang digambarkan terbuat dari besi menunjukan sifat keras kepala manusia. Bila dikaitkan dengan konteks kini memang angkuh adalah sifat yang tidak bisa lepas pada sebagian besar manusia, politik misalnya (pejabat pemerintah) yang terlena dengan materi hingga nekat menggunakan uang rakyat demi gaya hidupnya. Tatapan sinis figur utama tersebut dapat diartikan sebagai tatapan merendahkan orang lain, dalam beragama misalnya banyak orang merasa dirinya paling benar sendiri sehingga seakan merasa harus menjelekkan atau merendahkan mereka yang dianggap salah.
Dari kesatuan figur yang digambarkan dengan metafora yang unik tersebut, Agus Sugawe ingin mengkomunikasikan tujuannya untuk menggugah audiensnya bahwa inilah sifat buruk manusia yang sulit untuk dihindari, baik itu angkuh, sinis, merendahkan orang lain, iri, dengki dan moralitas buruk lainnya yang direpresentasikan dalam satu ekspresi yang kuat serta kedalaman suasana yang dibuat.
Background yang berkarat mengisyaratkan bahwa sifat itu sudah melekat pada diri manusia hingga berkarat atau menjamur didalam alam bawah sadar manusia sehingga dalam kontek kehidupan sosial seringkali manusia merendahkan orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Begitu pula dengan ornamen bunga yang digambarkan sebagai tumbuhan merambat yang dimaknai sebagai kerumitan pemikiran manusia yang akhirnya menjebak dirinya dalam suatu sikap yang buruk. Dalam psikologi semakin rumitnya isi pikiran manusia maka berdampak semakin stressnya jiwa, bahkan sampai dengan emosi yang tidak bisa dikendalikan. Sehingga secara keseluruhan saling melengkapi makna tentang sifat buruk manusia.
4. Evaluasi
Penggambaran figur manusia dengan menara babel menjadi suatu metafor yang tepat menggambarkan sifat buruk manusia. Dan visualisasi babel sebagai besi semakin memperkuat makna mengenai sifatnya itu. Secara visual memang tidak kaya dengan warna bahkan tidak dengan eksekusi karya secara penuh. Namun dengan pandainya memilih media yang sudah memiliki bercak dan karat yang khas justru menjadi satu-kesatuan karya yang baik dengan kesan tekstur alami. Penggunaan warna yang cenderung gelap juga memperkuat kesan ekspresi yang digambarkan dalam figur utama dan juga memiliki kesatuan dengan background.
Agus Sugawe juga melukiskan ornamen bunga yang sudah menjadi ciri khasnya yang juga ada di beberapa karyanya yang lain, tidak diketahui secara pasti makna yang dapat diambil dari penggambaran ornamen ini, namun secara sekilas merupakan penggambaran ornamen tumbuhan merambat sehingga dapat dimaknai sebagai sesuatu yang rumit dan merugikan. Dalam hal ini menjadi nilai plus sebuah karya yang satu kesatuan maknanya dapat diambil satu kesimpulan yang sama.
Namun dalam satu-kesatuan karya ini ada satu ambiguitas yakni mengenai representasi menara babel, jika dilihat secara langsung yang terlihat adalah tumpukan besi meskipun pada ujungnya digambarkan lancip layaknya sebuah menara. Atau bahkan dapat pula direpresentasikan sebagai besi barbell yang betumpuk, meskipun hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap makna oleh karena sama-sama merujuk pada suatu yang keras yang juga dapat dimaknai sebagai sifat buruk manusia yang tajam, namun dualitas representasi visual ini cukup membingungkan walaupun jelas judul lukisan berukuran 60 cm x 80 cm ini adalah Babel Head.




Comments