top of page
Desk

 NAELULABLE  
MENULIS UNTUK BERBAGI

Bagaimana Sebuah Ilustrasi Bercerita

  • Writer: Naelul Arzak
    Naelul Arzak
  • Aug 19, 2022
  • 3 min read

Updated: Jan 30, 2023


Ini adalah pengalaman saya mengikuti sebuah webinar tentang ilustrasi bercerita yaitu pada sabtu, 15 agustus 2020, tulisan ini merupakan rangkuman apa yang saya dapatkan ketika mengikuti webinar tersebut. Mulanya ada yang saya pertanyakan sebelum saya mengikuti webinar ini yakni bagaimana ilustrasi tersebut bercerita? Jawabanya akan saya terangkan satu persatu.

Webinar ini berjudul “Proses Ilustrasi Bercerita” dimana materi ini dibawakan oleh Arief A. Putra seorang illustrator buku anak/ children’s book illustrator yang sudah mejalin kerja sama dengan berbagai perusahaan besar luar negeri. Diawal pembelajaran dimulai dengan ia menceritakan tentang bagaimana sampai terjun menekuni dunia ilustrasi, ia berkaa bahwa ada hobi didalamnya yang menuntunya masuk dunia ilustrasi, sebelumnya ia adalah seorang arsitek yang bekerja di perusahaan desain arsitektur di kota Jakarta dan setelah menekuni hobi menggambarnya beberapa tahun, tahun 2020 menjadi langkah awalnya masuk ke industri ilustrasi, menurut beliau agak lamban dalam memikat client, namun dengan ketekunannya menyusun portofolio ilustrasinya ke media sosial dan media portofolio lainnya akhirnya dilirik oleh berbagai client diberbagai macam negara. Kesimpulan pertama menurutnya ialah mencoba untuk membuat karya yang pantas menjadi sebuah portofolio, yang mana karya dibuat dalam kurun waktu satu bulan untuk menghasilkan sebuah karya yang paling maksimal. Meskipun hal ini akan terasa lamban namun dengan hal tersebut dapat menghasilkan sebuah portofolio yang maksimal.

Pada pembahasan selanjutnya mulailah ia menerangkan tentang tahapan dalam berilustrasi. Tahapan-tahapannya ialah pertama sketsa konsep, dimana teks cerita yang sudah dipikirkan diteruskan menjadi sebuah konsep visual, dengan kata lain sketsa kasar dari ilustrasi yang akan kita buat nantinya. Simpelnya dari ide awal kemudian dikembangkan menjadi sebuah narasi dan imaji menjadi sebuah sketsa konsep baik itu statis maupun dinamis. Namun sebelum itu, ditekankan sebuah penguatan tokoh atau karakter yang masuk dalam narasi tersebut, bagaimana bentuk karakternya, aksi, interaksi, ekspresi, tempat, serta 1 detik terbaik dari adegan yang diciptakan seperti halnya jepretan foto terbaik dari sebuah adegan/ aksi. Kemudian merencanakan jalur mata pembaca, dalam hal ini ialah menetukan focal point atau fokus mata pembaca, dengan cara mengambil komposisi yang baik, bisa menggunakan rule of third atau golden ratio namun umunya lebih mudah mengguakan rule of third sebagai acuan komposisi gambar yang baik. Selanjutnya menetukan line of action, ini yang maksud dengan jalur mata pembaca bagaimana seisi tokoh/ karakter mengarah ke focal point sebuah ilustrasi. Selanjutnya sebagai acuan pendukung yakni dengan menentukan balance dan positif negatif yang baik serta skala ukuran tokoh atau benda yang bervariasi. Selebihnya adalah riset mendalam sehingga dapat mengilustrasikan karakter serta aksinya senatural mungkin.

Kedua, membuat sketsa rapi. Bisa dibilang pada tahap ini ialah tahap menemukan masalah, baik dari proporsi, aksi, dan pengembangan cerita serta memperkaya cerita diluar teks atau backstory.

Tahap ketiga, color and lighting study tentang bagaimana penetuan warna dengan harmony yang pas dan pemberian cahaya sesuai arah serta pantulan cahaya yang baik, dengan kata lain bright to dark yang baik serta warna yang dikombinasikan agar tidak terasa mati warnanya. Disini pengetahuan serta eksplorasi warna sangat diperlukan agar karya yang dihasilkan menarik serta nyaman dipandang mata.

Tahap keempat yaitu color blocking, setelah penetuan warna pada tahap sebelumnya sudah fix, tinggal memberinya blok warna yang rapi baik fill color atau texture color. Tahap kelima, rendering yakni tahap pendetailan sebuah ilustasi, kemudian tahap terakhir final tweak dimana kita melakukan penyesuaian HSV (hue, saturation, value) dan color balance agar mendapat warna serta kedalaman yang pas pada sebuah ilustrasi. Selebihnya ialah evaluasi karya sendiri.

Itulah beberapa tahapan yang penulis dapatkan dari pemateri Arief A. Putra, ia juga menambahkan sebuah kesimpulan bahwa dalam berislustrasi sekiranya 80% berpikir dalam hal ini artinya riset berbagai hal dan 20% lainnya adalah menggambar. Seperti halnya tahapan-tahapan diatas bahwa berpikir paling keras ialah pada tahap pertama sampai ketiga dan selebihnya pada tahap empat sampai terkhakhir adalah kemampuan dalam detailing gambar dimana tahap tersebutlah sudah terhindar dari pemikiran keras yang dilakukan dalam tahap-tahap sebelumnya. dan terakhir ia juga menambahkan agar selalu belajar dan berlatih karena skill dapat terus terasah selama kita terus berlatih membuat karya yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Comments


bottom of page