top of page
Desk

 NAELULABLE  
MENULIS UNTUK BERBAGI

Sepeda: C'est la vie

  • Writer: Naelul Arzak
    Naelul Arzak
  • Jan 30, 2023
  • 2 min read

Photo by Ikiik Studio


Bersepeda adalah cara terbaik ketika kita malas melakukan olahraga lainnya yang cenderung membutuhkan daya fisik yang lebih. Karena begitu mudah kita mengayuh sepeda dengan santainya. Jika dihubungkan dengan kehidupan, Eisntein pernah berkata, “Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangannya, kamu harus terus bergerak”. Hal ini merujuk pada masalah atau cobaan akan berdatangan, maka bersiaplah agar bisa terus bergerak dan menjaga keseimbangannya. Mengapa begitu? Hidup tak selalu berada pada keseimbangan dan tak selalu seperti yang kita inginkan. Jika kita bisa mengatasi masalah atau cobaan maka keseimbangan akan kembali. Tentunya dengan terus bergerak maju. Jika tidak, maka akan terjatuh layaknya terjatuh dari sepeda ketika kita berhenti mengayuhnya.

Berbicara mengenai sepeda, mungkin akan terdengar menarik bila mencoba mengulik cerita flashback sewaktu kita kecil. Ada keinginan begitu besar untuk bisa menaiki sepeda. Ada rasa antara takut dan ingin bisa melakukannya, namun dengan sedikit dorongan, kemauan itu semakin besar. Perlahan melepas 2 roda yang menopang antara kanan dan kiri. Lalu perlahan menaiki sepeda dengan sekali kayuh, dua kali kayuh, dan terjatuh. Kita ulangi hal itu berkali-kali meskipun rasa sakit selalu terasa. Namun ada saat dimana hanya dengan melewati beberapa kayuhan kita merasa begitu senang. “Aku bisa! aku bisa!” dengan rasa amat senang yang kita katakan pada ayah atau ibu yang mendampingi kita. Senyuman lebar dan rasa optimisme semakin terbangun, tak peduli sebanyak apapun merasa sakit karena jatuh, kita bisa bangkit dengan mudah. Sampai akhirnya kita pun berhasil menguasainya.

Seakan kita lupa atau memang lupa, begitu hebat dan kuatnya kita sewaktu kecil. Mau bangkit untuk keberhasilan yang besarnya mungkin hanya seujung jari, melawan rasa sakit yang selalu menanti dan selalu terasa. Aneh tapi nyata, seakan kita menjadi semakin lemah saat dewasa. Bukankah hanya untuk bangkit setelah jatuh saja seseorang terkadang berpikir terlalu banyak dan menunda begitu lama untuk melakukannya. Tak seperti sewaktu kecil dengan gampangnya beralih dari keadaan satu ke keadaan yang lain.

Sedikit intropeksi diri dapat membantu, mengungkap kelucuan tingkah kita saat ini. Belajar dari kehidupan kita dimasa lalu, merefleksikannya ke keadaan yang saat ini dialami. Dan sedikit menertawakan kelucuan diri sendiri akan terdengar sedikit melagakan. Iya, begitulah hidup.


Comments


bottom of page