Pujian atau Ujian?
- Naelul Arzak
- Feb 2, 2023
- 2 min read

Pujian atau ujian? Dua hal yang saling berkaitan. Siapa yang tidak ingin dipuji? Hampir semua orang ingin dipuji atas apa yang mereka hasilkan, perbuat atau yang mereka punya dari bawaan lahir seperti paras atau pun yang lain. Perasaan senang tidak bisa dihindari, karena pada dasarnya pujian adalah suatu hal yang menyenangkan yang diberi oleh orang lain. Tak peduli bagaimanapun bentuknya, pujian tetaplah sebuah sanjungan yang dihadiahkan untuk seseorang. Secara psikologis memang manusia cenderung memilih informasi yang menyenangkan untuk dirinya. Kesan positif yang mereka dapat dari orang lain turut serta pula dalam membangun jiwa yang positif. Namun akankah selalu seperti itu?
Respon menjadi hal penentu baik tidaknya pujian itu diterima seseorang. Bukan dalam arti perasaan yang ia dapat melainkan hal dibalik pujian itu sendiri. Membuat diri semakin termotivasi atau mungkin malah membuat seseorang menjadi lupa diri. Karena terlalu memandang dirinya lebih hebat atau tinggi ketimbang lainnya. Maka tidak ada salahnya menyebut pujian sebagai suatu ujian.
Kita tidak dapat menerka sepenuhnya apa yang dirasakan oleh sang penerima pujian. Kesan yang umum atau kesan yang terlalu berlebihan. Maka sebaiknya seseorang tidak terlalu berlebihan dalam hal memuji. Contoh sederhananya ialah seorang seniman, sudah sewajarnya seniman memamerkan karyanya. Ketika sang seniman mendapat pujian ia akan semangat dalam berkarya namun ketika sebuah pujian itu terlalu berlebihan diterimanya dan ia pun menanggapinya dengan berlebihan pula, terkadang itu adalah hal yang mematikan. Merasa terlalu berbangga diri dengan karyanya, sehingga sewaktu Ia mendapati respon yang tak seperti yang ia bayangkan akan membuatnya patah semangat dan terlalu merendah diri atau memiliki kemungkinan untuk berhenti. Dari contoh tersebut memang alangkah baiknya memuji seseorang dilakukan dengan sewajarnya.
Hal lain dari pujian adalah senjata jitu dalam merayu atau mempengaruhi seseorang. Bisa saja postif atau negatif. Tidak masalah jika dalam niatan positif, namun apa jadinya jikalau itu adalah suatu yang negatif?. Sudah barang tentu jika terlalu larut dalam pujian akan berkibat buruk pada diri orang tersebut. Jika sudah terlalu larut maka perasaan bangga diri atau sombong tidak dapat dihindari. Dan akhirnya lupa untuk bersyukur.
Sebaliknya untuk orang yang memuji secara berlebihan dengan tegas dilarang oleh Nabi, dalam hadist yang diriwatkan oleh Imam Muslim nomor 3000-3002 bahwa orang yang terlalu berlebihan dan kelewat batas dalam memuji ibaratnya seperti memenggal leher temannya sendiri dalam artian mencelakakan orang yang dipuji, seperti melahirkan ‘ujub atau sifat bangga diri, lalu sombong, dan sifat merendahkan orang lain pada orang yang dipuji tersebut. Sehingga memang sepantasnya pujian adalah sebuah ujian. Yakni ujian kerendahan hati, jika dapat menerima dengan baik maka akan baik, dan jika menerima dengan berlebihan maka akan berakibat buruk. Kerendahan hati diciptakan dengan mengembalikan semua pujian itu pada yang kuasa, maka senantiasalah untuk bersyukur kepadanya ketika mendapat pujian. Pujian adalah ujian yang tak terlihat dan disadari, maka berhati-hatilah saat mendapatkannya.




Comments