top of page
Desk

 NAELULABLE  
MENULIS UNTUK BERBAGI

Radio

  • Writer: Naelul Arzak
    Naelul Arzak
  • Sep 12, 2022
  • 2 min read

Sebuah cerpen oleh: Mohammad Naelul Arzak


Mungkin hampir setiap malam aku duduk di pojok kamarku, bersender di sebuah dinding yang dingin, ditemani secangkir kopi yang menjaga kehangatan tubuh, sembari mendengarkan radio yang menceritakan kisah-kisah senang dan pilu. Ini kisah lama, tentang aku yang sering menyendiri melewati malam yang sunyi. Itulah aku, rasanya seperti mengerti perasan orang lain dengan cerita kasih yang disampaikan dengan kata yang ringan.

Sebut saja aku Raka, seorang remaja yang masih labil. Mungkin bisa dibilang hanyalah seorang yang tak terlalu peduli akan sosial atau apapun sejenisya. Namun hati ini juga tetap hidup, mendengarkan keluh kesah kisah orang yang berperasaan. Memahami dan merefleksikan kedalam diri.

Pagi hari yang lembab, cukup dingin untuk ukuran kota yang padat. Aku berada di sekolah yang cukup membosankan. Bukan apa, namun Aku memang tidak mempunyai teman khusus atau yang serupa, hanya memiliki beberapa orang yang cukup menggangguku selama ini. Dari belakang seorang menepuk pundakku dengan cukup keras lalu ia pergi begitu saja dengan wajah meledek. Ia Rachel teman kelasku yang cukup jahil untuk sekelas anak cewek yang populer. Disusul pula tiga orang anak yang berdiri didepan pintu kelas.


“Permisi, mau lewat.” Ucapku.

“Ya silahkan saja, bagi duit dong?” kata salah seorang dari mereka sembari memegang pundakku dengan cukup erat.

“Enggak ya.” Aku menepis tangannya dan meninggalkan mereka dengan tatapan sinis.


Tiga anak itu bernama Radit, Regi, dan Ryan. Mereka sering dipanggil “Geng 3R”, sebutan yang cukup konyol menurutku.

Duduk disamping jendela, pojok belakang ruang kelas, itu tempat duduk ku. Sebuah tempat yang pas untuk penyendiri sepertiku. Bel sekolah bordering, guru pun masuk dengan membawakan materi pelajaran seperti pada umumnya, namun sesuatu membuatku merasa tidak aman. Beberapa gumpalan kertas menghujaniku, ini sesuatu yang biasa terjadi di hariku yang selalu hambar ini. Tidak lain mereka bertiga yang terus menerus menjahiliku, aku tidak tahu apa alasan mereka melakukannya padaku, karena mereka senang kah? Atau ada alasan lain?. Meja kelas aku gebrak dengan keras, “CUKUP” ucapku dengan keras. Pak guru yang sedang menulis di depan menoleh ke arah ku.


“Ada apa Raka?, kamu tidak suka dengan pelajaranku?”

“Bukan begitu, Pak. Tapi mereka bertiga, Radit, Regi, Ryan.” jawabku menanggapinya dengan cepat.

“Apa maksudmu, Raka? Ada apa dengan mereka?” tanggap Pak guru menyudutkanku. Disisi lain tiga anak itu mengancamku dengan ekspresi wajahnya yang menyudutkanku pula.

“Em.. anu.. lupakan, Pak. Saya tidak mau membahasnya” jawabku dengan sedikit merundukan kepala.

“Ada apa denganmu sebenarnya?. Ok, kita lanjut Pelajarannya. Raka! Jangan mengganggu teman-temanmu lagi!”

“Baik, Pak.” aku menanggapinya dengan cukup kesal.


Hari itu berakhir begitu saja, aku menyimpan rasa kesal itu seharian. Bukan maksudku terlalu mendalami permasalahan ini, aku hanya kesal dan muak dengan perlakuan mereka terhadapku, jika saja aku mempunyai kekuatan yang besar mungkin aku akan menghajarnya langsung, fikirku demikian. Kunyalakan radio dan berbaring diatas kasur kamarku. Ini satu-satunya hiburanku, tidak ada yang lain, orang tuaku sibuk bekerja hingga larut malam dan ibuku harus menjaga adikku yang masih balita. Mendengarkan musik dari request orang-orang, dan mendengarkan kisah pilu seperti hidupku. Dan akhirnya malam terasa begitu cepat terlewati.

Comments


bottom of page