Orang Bilang: Bagai Selegas Es Teh Manis
- Naelul Arzak
- Sep 5, 2022
- 2 min read
Updated: Jan 31, 2023

Bagaimana hidup itu berjalan?. Orang bilang hidup itu bagai air mengalir yang mengalir begitu saja. Namun orang pun bilang jangan biarkan hidup bagai air mengalir, karena air mengalir ke arah bawah bukan keatas, dan katanya suruh kita beranjak menapaki tanah yang kita inginkan bukan berjalan tanpa tujuan. Lalu orang pun bilang hidup itu bagai teh manis warteg yang jika kita minum sesaat akan terasa tawar lalu semakin kita minum akan mulai terasa manis, karena apa? Bagian yang paling manis berada tepat paling bawah. Dan setidaknya dari semua ucapan itu aku percaya bahwa ada berbagai pilihan hidup yang bisa kita jalani.
Hidup bagai teh manis warteg, sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, pasti jika kalian pernah mampir atau berkunjung ke warteg lalu kita memesan es teh manis, apa yang kalian dapatkan? Sebuah teh manis yang gulanya masih terkumpul di bawah. Yang artinya rasa manis itu baru kita rasakan saat-saat tegukan terakhir. Begitu pula dengan hidup yang mungkin awalnya anyep, pahit, tawar, akan lebih dulu dirasakan sebelum merasakan manisnya hidup. Mungkin terdengar sederhana sekali perumpamaannya, namun untuk kenyataan bukan suatu yang mudah seperti yang dikatakan.
Terkadang ada saatnya dimana kita terpentok oleh suatu hal yang sangat tidak kita inginkan. Sesuatu yang membuat jalan kita ragu, ragu akan kedepannya mau seperti apa diri kita. Mungkin suatu penolakan, ketidakpuasan, protes seseorang, dan berbagai kegagalan lainya yang membuat kita merasa begitu jatuh dan merendah. Dan akhirnya malah mendorong kita untuk mengambil keputusan seperti tidak ada pilihan lain selain menyerah. Menyerah bukanlah pilihan melainkan alasan untuk kabur dari masalah. Namun yakinlah hidup tidak terus menerus mengenai kegagalan, jika bukan hari ini mungkin besok, dan jika bukan besok mungkin lusa atau seterusnya. Seperti halnya perumaan tadi, anyep, pahit kita rasakan terlebih dahulu setelah itu mulailah ada rasa manis yang menyertai. Mungkin tidak akan selancar apa yang kita kira, tapi kita perlu yakin rezeki dan doa-doa yang sering kita panjatkan takkan kemana.
Iri, suatu hal yang menyebabkan terhalanginya kebahagiaan. Pahit manis hidup tidak akan menjadi lebih parah jika bisa menghindar dari iri. Lupa untuk bersyukur, dan hanya peduli pada keinginan, hidup tidak semata ingin menjadi seperti orang lain yang menurut kita lebih sukses, namun kesyukuran lah yang menjadi kita lebih bersabar dan tahu akan tujuan kita sendiri dalam meraih sesuatu. “Jika engkau ingin hidup bahagia maka jangan bandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Ketahuilah engkau memiliki kehidupan, keadaan, lingkungan, pemikiran dan pribadi yang berbeda dengan orang lain, oleh karena itu Allah memberimu “bagian” dan “kadar” yang sesuai dengan dirimu dan tidak serupa dengan yang lain. Maka dengan penuh rasa bersyukur, senantiasa ucapkanlah “Alhamdulillah…Alhamdulillah…”.” Kata seorang tokoh ulama besar Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi.
Senantiasa mensyukuri nikmat yang kita peroleh, selagi sibuk mengejar impian dan tujuan. Selain meringankan beban dan tekanan terhadap kegagalan maupun cobaan, juga membuka pikiran kita terhadap jalan terbaik akan tujuan. Gagal boleh saja, mendapati ketidakpuasan boleh saja, namun iri berlebihan jangan sampai dialami. menyerah bukan solusi, iri harus diatasi, atas kesyukuran akan nikmat membuka jalan lain yang tidak kita tahu sebelumnya. Mau bagaimanapun hidup, hidup seperti air mengalir maupun hidup akan perumpamaan es teh warteg, hidup itu tidak lain adalah tentang sebuah kebahagiaan, yang terus ingin kita rasakan bagaimanapun bentuknya.




Comments