Kereta Semu
- Naelul Arzak
- Feb 5, 2023
- 4 min read

Suatu hari sepasang suami istri sebut saja Ryan dan Dian. Pada suatu malam mereka hendak pergi ke luar kota, mereka tergesa karena sebuah jam dinding yang didapati pada dinding rumahnya mati sehingga terjadi kesalahanpahaman waktu. Ryan menarik tangan Dian, berharap istrinya bisa berjalan lebih cepat, namun ia juga ragu akan memaksa istrinya yang sedang hamil itu. Ryan merasa tak sabaran, Dian istrinya pun berkata "Mas, tolong jangan gugup begitu, bahaya ini di jalan raya malam-malam gelap begini..", Ryan pun menjawab dengan nada yg tinggi "Tapi ini begitu penting An! Kalau kita tak dapat taksi untuk ke stasiun kita benar-benar akan terlambat!" "Sabar mas, coba buka Gocar lagi siapa tau sudah ada driver yg dekat dari sini". Akhirnya Ryan pun mulai tenang dan berharap besar ada driver Gocar yang bisa menjemputnya dengan cepat. Satu menit berlalu, dan akhirnya Ryan mendapat driver 3 menit menuju lokasinya. "Makasih An, kau sudah menenangkanku kamu memang istri yang luar biasa".
Taksi pun tiba, mereka berdua langsung beranjak menuju stasiun tujuannya. Setibanya disana angin bertiup begitu kencang, hawa dingin sangat terasa oleh mereka berdua, waktu tinggal tersisa 2 menit sebelum keberangkatan sesaat setelah mereka mengecek ponselnya namun Dian istrinya tak bisa berjalan dengan cepat, sesampainya di tempat boarding pass, suara kereta bergema begitu keras, mereka terlambat.
Jarum jam menunjuk pukul 23.13. lorong tunggu stasiun mulai sepi. Disitulah sepasang suami istri itu berdiam diri. Ryan terlihat begitu kecewa, sementara istrinya memegang erat tangan Ryan, "Maafkan aku mas!.. ini karena aku tidak bisa seperti inginmu" ucap Dian dengan memohon. "Aku menerima ini, ini bukan salah mu, justru ini salahku karena lalai dengan waktu, dan selain itu anak yang ada di kandunganmu lebih penting dari apapun" ucap Ryan.
Dari kejauhan, datang seorang bertopi hitam menutupi mukanya, ia datang dengan sebuah kertas yang ada digenggamannya. Lalu ia mendatangi pasangan itu. Ryan menengok kedepan setelah pandangannya mendapati kaki seseorang ada didepannya. Ryan diberi sebuah kertas yang tidak lain adalah sebauah tiket kereta. "Maaf, apa ini pak? Anda juga telat" tanya Ryan dengan kebingungan. "Ini tiket kereta selanjutnya untukmu dan istrimu" jawab seseorang itu. "Apa anda bergurau pak! Tidak ada kereta berikutnya, jam 11 malam tadi kereta terakhir hari ini" ucap Ryan dengan keheranan. "Saya tidak bergurau, mungkin anda hanya salah mengingat. Coba anda cek saja tiket keretanya." ucap orang misterius itu lalu meninggalkan mereka berdua. Sesaat setelah itu Ryan menyadari, di tiket itu tertulis kereta keberangkatan jam 00.00, Ryan begitu heran namun juga merasa senang, "An.. An! Coba lihat! Kita bisa berangkat" ucap Ryan kepada istrinya. "Hah! Apa mungkin mas?" dian yang terkaget. "Iya, aku juga gak menyangka, aku turut bersalah karena tidak sopan pada orang itu, apapun itu dia pasti orang baik”.
Pukul 23.50 kereta itu datang dengan asap yang mengelilinginya, dan itu hanya disadari oleh istrinya. Ryan menarik tangan istrinya namun istrinya justru berbalik bertanya, “Apa benar ini mas, kita naik?” ia merasa ragu. Mereka naik dan kereta itu berjalan, Ryan yang sangat peduli akan kepentingannya tidak menjawab keraguan istrinya, karena menurutnya ini jalan kesempatan untuk mereka tiba di kota tujuan. Dian merasa gelisah, menurutnya ada keganjalan dari kereta yang ditumpanginya, kereta sepi dengan sedikit sekali yang menumpanginya, namun ia masih merasa lega karena kedapatan penumpang lain yang duduk jauh dari kursi miliknya.
“Hahaha” dua anak berlari di gerbong kereta. Dian melihat keheranan, Ryan menghampirinya, “Hai nak, jangan berlari-lari di gerbong! Bahaya, ini juga sudah malam tidurya.. mana orang tua kalian?” dua anak itu tidak satupum yang menatap Ryan, mereka hanya mengangguk dan menjawab pertanyaan Ryan dengan menunjuk tangan. “Hati-hati ya” ucap Ryan.
Sepanjang jalan Dian merasa curiga, melihat luar jendela yang gelap gulita, sekalinya ada cahaya tanpa ada bentuk yang tampak di sekelilingnya, ia tahu ini tengah malam namun hatinya merasa ada yang aneh sekaligus merasa sedikit ketakutan, tangannya memegang erat tangan Ryan.
Waktu pun berlalu, tak terasa mereka hampir sampai dengan tujuan yang mereka rasa dari melambatnya laju kereta. Tak ada aba-aba atau pengumuman apapun bahwa mereka hampir sampai namun mereka melihat tampak stasiun yang terang benderang itu, stasiun tujuannya. Mereka pun turun tanpa basa-basi, melihat penumpang lain yang tidak beranjak turun Dian merasa aneh. Begitu mereka turun menginjakan kaki mereka berdua, stasiun tiba-tiba gelap gulita, lampu yang ia lihat menerangi stasiun itu mati seketika. Mereka terkaget-kaget, “Kok lampu mati? Ada apa?” Ryan yang keheranan. “Ada yang tidak beres dengan kereta itu mas..” balas istrinya, Dian. Mereka berbalik kearah kereta itu berada, mereka pun kaget ketika tidak mendapati kereta itu ada. Mereka mencoba mencari jalan menuju pintu keluar stasiun dan pintu terkunci, mereka tak satupun melihat ada orang disana. Mereka berteriak meminta tolong membukakan pintu, beberapa menit mereka berteriak meminta tolong, sampai akhirnya seorang satpam pos mendengar teriakan itu. “Loh kenapa kalian ada di dalam? Stasiun ini kan sudah tutup dari beberapa jam lalu?” tanya satpam keheranan. “Panjang ceritanya, pak. Tolong buka pak!”. Mereka pun keluar dan menceritakannya langsung kepada satpam itu, hal itu masih menjadi misteri. Menurut satpam itu, ia pernah sekali menjumpai seseorang yang mengalami hal yang sama, namun semua hal itu masih menjadi misteri hanya mereka yang mengalami yang mengetahuinya.
~ SELESAI




Comments