Humor Fitrah Manusia
- Naelul Arzak
- Aug 30, 2021
- 2 min read
Updated: Jan 31, 2023

Salah satu tanda bahagianya seseorang adalah tertawa. Ketika tertawa seseorang sedang mengalami kesenangan dan menikmati kehidupan dan ini baik asalkan tidak berlebihan yang mana tertawa dapat juga menjadi rasa bersyukurnya kita menerima kenikmatan dari Allah. Dan tertawa adalah anugerah yang hanya diberikan kepada manusia, sedangkan makhluk lainnya tidak demikian. Mungkin kita pernah dengar ada ayam tertawa, tapi hakikatnya ia tidak tertawa, dikatakan tertawa hanya sebatas karena suaranya yang ditafsirkan mirip dengan manusia saat tertawa. Adanya tertawa adalah respon dari humor dan selera humor inilah yang umum dimiliki seseorang sebagai salah satu fitrah manusia.
Seorang filsuf prancis Braise Pascal menjelaskan bahwa aktivitas manusia memiliki dua karakter yaitu kematian dan keabadian, keterbatasan dan kebebasan. Tertawa merupakan bagian dari kebebasan dan keabadian. Karena ketika bisa tertawa kita merasakan kebebasan dan seolah-olah semua masalah yang kita alami telah teratasi. Dan saat tertawa kita juga masuk dalam wilayah keabadian atau dalam bahasa teologi kita merasakan surga. Di mana di dalam surga tidak ada kesedihan, yang ada hanyalah kegembiraan dan keceriaan.
Hidup terlalu pendek untuk terus dibawa serius. Seimbang adalah kuncinya, di mana ada kalanya serius dan ada kalanya kita menikmati kehidupan salah satunya adalah dengan humor dan tertawa. Bahkan manusia paling mulia seperti Nabi Muhammad sesekali juga memberi humor/bercanda dengan para sahabat. Banyak riwayat dimana Nabi dikisahkan sedang bercanda, contohnya kisah tentang seorang sahabat yang ingin pergi naik unta bersama Rasul. Tapi Rasulullah melarangnya menaiki unta dan ia disuruh untuk menaiki anak unta. Lalu ia bertanya “Ya Rsulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggupp memikul barang-barangku ini?”. Lalu Rasul menjawab “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, seekor unta kan juga anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” seketika itu sahabat tersenyum dan mengerti candanya Rasulallah.
Kemudian ada juga kisah populer antara Nabi dengan seorang nenek. Ketika itu seorang nenek menghampiri Rasulullah dan bertanya “Ya Rasulullah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?”, Rasulullah pun menjawab “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua.”. Setelah mendengar itu, perempuan tua itu menangis akan nasibnya. Namun kemudian Raslullah menjelaskan dengan mengutip surat Al-Waqiah ayat 35-37, “Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari0 dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. Atau jika dalam bahasa sehari kita mungkin akan terdengar seperti “Maksudnya, tidak akan ada perempuan tua di surga. artinya nenek dikembalikan lagi keusia muda.” Mendengar itu, sang nenek sangat senang.
Begitu juga untuk manusia pada umumnya, bercanda, tertawa adalah hal yang manusiawi. Jadi tidak menjalani hidup dengan serius terus menerus adalah hal yang baik, kita bisa mengambil banyak manfaat dari humor seperti kita bisa menikmati hidup, merasa bahagia dan bersyukur. Namun dengan catatan tidak berlebihan, karena seseungguhnya yang berlebihan itu tidak baik.




Comments