top of page
Desk

 NAELULABLE  
MENULIS UNTUK BERBAGI

Estetika Islam

  • Writer: Naelul Arzak
    Naelul Arzak
  • Jul 25, 2021
  • 3 min read

Updated: Jan 31, 2023


Berbicara mengenai Islam maka berbicara mengenai agama, Islam merupakan agama tauhid yang mempunyai prinsip keyakinan tidak ada tuhan yang patut disembah atau dimintai pertolongan selain Allah. Agama didalamnya terdapat ibadah, dalam islam sendiri konsep ibadah memiliki arti yang luas yang menceminkan pada segala sikap tunduk dan patuh kepada Allah atau yang diridhoinya baik bersifat ucapan, sikap, perbuatan atau karya baik nyata atau tersembunyi yang kesemuanya itu berpedoman pada Al-Quran dan Hadist. Berkaitan dengan estetika, Allah sebagai sang Khaliq merupakan dzat yang maha indah (Al-Jamal), tersirat dalam Alquran bahwa Keindahan yang diciptakan oleh Allah, bukan hanya berhenti pada nilai intrinsik atau sifat keindahan fisiknya saja, melainkan memiliki nilai ekstrinsik kegunaan di luar sifat indahnya itu. Dengan demikian keindahan dalam Islam mengedepankan keindahan dalam aspek manfaat dan nilai positif yang ada didalamnya.

Dalam Islam, hukum menciptakan keindahan adalah mubah atau boleh, namun hukum ini bisa menjadi haram atau makruh bila berdampak negatif pada pembentukan akhlak. Sebaliknya hukum ini juga bisa berubah menjadi Sunnah atau dianjurkan apabila memberikan manfaat positif dalam pembentukan akhlak atau perjuangan dalam menegakkan islam. Sehingga dapat dipetik hikmah bahwa terciptanya peluang bagi umat islam untuk mengembangkan kreatifitas mereka dalam berkarya. Aspek keindahannya itu dapat dilihat dari visual alam semesta ciptaan Allah yang dapat ditemukan adanya ciri atau sifat-sifat keindahan antara lain keserasian dan keseimbangan antar unsur-unsur visual dalam kesatuan. Harmoni dalam kebinekaan dan bineka dalam kesatuan. Maka dengan demikian keindahan seni dalam Islam, secara fisik harus mampu mengekspresikan ciri-ciri atau sifat keindahan alam yang di ciptakan oleh Allah SWT.

Dalam perspektif Al-Ghazali keindahan suatu objek dapat dilihat sesuai dengan fitrahnya, yakni dapat dikenali kembali sesuai dengan sifat objek tersebut. Al-Ghazali juga mengatakan bahwa apabila seluruh kemungkinan sifat kesempurnaan terdapat dalam satu objek, maka objek itu menjelmakan tingkat keindahan tertinggi dan apabila hanya terdapat sebagian, maka objek itu memiliki keindahan dalam tingkat kesempurnaan tertentu. Berkenaan dengan itu, ada dua sifat keindahan menurut Al-Ghazali yaitu keindahan bentuk luar atau fisik dan keindahan bentuk dalam atau hakiki. Keindahan bentuk luar dapat dilihat secara langsung oleh visual mata, sedangkan keindahan bentuk dalam, hanya dapat ditangkap oleh matahati dan cahaya visi dalam manusia. Dalam hal ini Al-Ghazali menegaskan visi dalam lebih kuat dari visi luar karena hati atau jiwa lebih peka menyerap keindahan dari pada mata dan inilah yang disebut hakiki. Misalnya sebuah lukisan, sesungguhnya seniman itu mengeskpresikan keindahan dalam atau hakiki pelukisnya dalam sebuah lukisan. Meski juga tidak mengabaikan keindahan visi luar yang berdasarkan prinsip-prinsip estetis, yakni harmoni, urutan, keserasian dan susunan keseluruhan. Sehingga kedua aspek itu merupakan satu kesatuan keindahan dan secara keseluruhan pula keindahan adalah sesuatu yang dapat membangkitkan atau mengekspresikan rasa cinta, terutama cinta kepada Allah.

Kemudian wacana estetika islam menurut pandangan Al-Farabi yang membawa konsep metafisik Tuhan memancarkan keindahan yang kemudian diserap oleh alam semesta yang membuatnya menjadi indah. Al-Farabi menyusun 10 hierarki keindahan yang mana manusia berada di urutan ke-10 sebagai penyerap atau memantulkan keindahan yang terpancar dari Ilahi. Dengan demikian, keindahan sejati datang dari pancaran cahaya Ilahi. Sebagaimana semua benda, alam, karya seni, dan sebagainya menurut pandangan Al-Farabi tidaklah indah atau tidak menyimpan keindahan di dalamnya. Hal itu bisa menjadi indah bila ikut menyertai keindahan milik Ilahi.

Selanjutnya estetika islam menurut perspektif Ibnu Sina yang mana membawa konsep keindahan kodrati atau tetap sesuai dengan kodratnya. Kodrat yang dimasksud adalah seperti semestinya. Sebagai contoh sebuah asbak rokok yang dibuat dari kayu yang indah dan diukir dengan indah namun tetap difungsikan sebagaimana mestinya. Pemikiran utama Ibn Sina juga menggunakan konsep metafisik. Yang mana stratifikasi keindahan menurut Ibn Sina yakni semakin indah maka akan semakin intelektual karya seni tersebut. Maka dari itu, keindahan tertinggi sudah tentu milik Tuhan Yang Maha Esa, karena semua keindahan dan ilmu berasal dari Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan juga menjadi sumber semua yang kodrat, juga semua yang harmoni. Manusia butuh semacam akses dengan bantuan meditasi juga dengan kontemplasi untuk memurnikan dirinya dan mencapai keindahan yang sejati.

Demikianlah estetika islam dijelaskan dalam berbagai perspektif. Konsep keindahan yang selalu berpusat kepada ilahi oleh karena sumber dari segala keindahan adalah miliknya.

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page